📸 Foto: Menepi di BKT, Ketika Burung Kuntul Berbagi Ruang dengan Realitas Sungai Kota

Musim kemarau selalu membawa cerita tersendiri bagi lanskap perairan di Kota Semarang. Salah satunya terlihat jelas di aliran Banjir Kanal Timur (BKT), tepatnya di sekitar kawasan jembatan Jalan Majapahit. Saat volume air menyusut dan arusnya melambat, wajah sungai ini memperlihatkan sisi lain yang jarang luput dari pengamatan.

Di tengah undukan rumput liar yang menghijau di sisi tebing sungai dan endapan lumpur yang bercampur sisa sampah urban, pemandangan hidup tiba-tiba hadir. Beberapa ekor burung kuntul tampak tenang menyusuri dangkalnya air. Kehadiran mereka seolah menjadi kontras yang menarik—sekaligus mengharukan—di tengah bentang sungai buatan yang tak pernah sepi dari aktivitas manusia.

Bagi sebagian warga Semarang, burung-burung berwarna putih bersih ini mungkin sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Mereka kerap terlihat sendiri atau berpasangan, sabar menanti ikan kecil atau biota air yang terjebak di antara endapan. Berbeda dengan kerabatnya yang kerap membentuk koloni besar di pepohonan kawasan atas kota, kuntul-kuntul di BKT ini tampak lebih mandiri, beradaptasi langsung dengan ekosistem perairan kota yang keras.

Apa yang terekam lensa kamera pada awal Agustus lalu ini menyuguhkan potret jujur tentang alam urban. BKT bukan lagi sekadar infrastruktur pengendali banjir, melainkan ruang hidup bagi sesama makhluk ciptaan Tuhan yang gigih mencari penghidupan di sela-sela modernisasi kota.

Di balik segala pekerjaan rumah soal kebersihan sungai yang masih harus dibenahi bersama, alam rupanya punya cara sendiri untuk tetap hidup dan menemukan jalannya di Semarang.

Artikel terkait:

Komentar