🎭 Wajah-Wajah Legenda dalam Kirab Cheng Ho di Depan Lawang Sewu

Sabtu pagi (15/8), setelah menunggu beberapa saat di tepi jalan, akhirnya rombongan arak-arakan Cheng Ho mulai melewati muka Lawang Sewu. Ya, kami di sini untuk memotret langsung kemeriahan acara budaya yang selalu dinanti-nantikan setiap tahunnya di Kota Semarang ini.

Di antara barisan yang melintas, salah satu daya tarik utama yang paling mencuri perhatian adalah sekelompok peserta dengan riasan wajah yang sangat khas. Mereka merepresentasikan pemeran tokoh opera tradisional Tiongkok—seperti karakter Bian Lian atau opera Beijing—serta bagian dari pasukan pengawal atau prajurit tokoh historis dalam barisan kirab.

Kalau diperhatikan lebih dekat melalui bidikan lensa, sapuan kuas di wajah para peserta ini tentu bukan sekadar corak warna sembarangan. Setiap garis, lekuk, hingga pemilihan dominasi warna—mulai dari merah, putih, hingga hitam—memiliki pakem tersendiri yang merepresentasikan karakter dalam kisah klasik. Riasan wajah face painting dengan warna-warna kuat ini umumnya melambangkan sifat tertentu dalam legenda, mulai dari kebijaksanaan, keberanian, hingga kesatriaan yang memancarkan ketegasan dan wibawa.

Menariknya lagi, di balik riasan wajah yang tampak serius dan garang tersebut, para peserta ini sama sekali tidak jaim. Mereka justru sangat ramah menyapa khalayak di sepanjang rute. Saat kamera diarahkan ke hadapan mereka, senyum langsung mengembang, jempol teracung, bahkan tak sedikit yang asyik ber-swafoto di tengah padatnya barisan pawai. Kehangatan interaksi inilah yang membuat atmosfer perhelatan terasa begitu hidup dan membumi.

Keberadaan mereka dengan latar belakang arsitektur bersejarah Lawang Sewu, berpadu apik dengan warna-warni kostum beraksen hitam-merah. Komposisi ini menciptakan kontras visual yang menyenangkan untuk dinikmati sekaligus diabadikan, sekaligus menjadi pengingat betapa kayanya warna kebudayaan yang hidup di ruang publik kota ini.



Pawai pun akhirnya berlalu, meninggalkan riuh rendah tepuk tangan penonton yang memadati kawasan Tugu Muda. Namun, guratan seni di wajah para penampil hari itu tetap meninggalkan kesan tersendiri di sudut memori: bahwa merawat dan merayakan tradisi ternyata bisa diekspresikan dengan cara yang meriah dan penuh suka cita.

Artikel terkait:

Komentar