Car Free Day (CFD) Semarang pada minggu pertama tahun 2026, tepatnya tanggal 4 Januari, memberikan kesan yang berbeda bagi para pengunjung, termasuk kami sendiri. Di tengah keriuhan warga yang berolahraga dan lalu-lalang, langkah kaki mendadak tertahan saat sayup-sayup terdengar vokal yang sangat familiar di telinga.
Penampilan tersebut merupakan bagian dari aksi nyata yang digawangi oleh Institut Musik Jalanan (IMJ) Semarang. Mengusung tajuk "Ngamen Peduli Bencana", panggung di aspal Simpang Lima ini menjadi sarana misi penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Sumatera yang sedang tertimpa musibah.
Kejutan Vokal Om Budi (Sangkala Band)
Salah satu penampil yang paling mencuri perhatian pagi itu adalah Sangkala Band. Begitu sang vokalis, Om Budi, mulai memetik gitar akustik dan melantunkan bait-bait lagu "Bongkar", suasana langsung berubah. Kami sendiri sempat tidak menyangka, karakter suaranya yang berat, serak, dan penuh tenaga memiliki kemiripan yang luar biasa dengan sang legenda hidup, Iwan Fals.
Menariknya, identitas sang vokalis justru terungkap lewat interaksi di dunia digital. Setelah kami membagikan potongan video pendek di platform YouTube Shorts dan TikTok, kolom komentar langsung dibanjiri oleh netizen yang mengenali sosok beliau.
Mengenal Sangkala, Wajah Lama Kota Atlas
Bagi pemerhati musik lokal, nama Sangkala sepertinya sudah tidak asing lagi. Namun, perlu sedikit ketelitian saat mencari referensi mereka di internet. Meskipun ada nama serupa yang berasal dari Bantul dan aktif sejak 2005, Sangkala yang kami temui di CFD ini merupakan unit musik asli Semarang.
Mereka adalah "wajah lama" yang sudah sangat menyatu dengan denyut nadi komunitas di Kota Atlas. Penampilan mereka di ruang publik menunjukkan bahwa Sangkala bukan sekadar band panggung, melainkan bagian dari ekosistem sosial Semarang yang konsisten menjaga eksistensinya lewat karya dan aksi nyata.
Lebih dari Sekadar Cover Musik
Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada para musisi lokal kita. Sangkala membuktikan fleksibilitas mereka; dari panggung gigs komunitas hingga turun ke jalanan Simpang Lima demi kemanusiaan. Lewat energi musik rakyat yang autentik, mereka mampu menghidupkan suasana CFD sekaligus mengetuk hati warga untuk berbagi.
Penampilan santai Om Budi dan kawan-kawan pagi itu menjadi pengingat berharga. Musik yang berkualitas tidak selamanya harus lahir dari panggung megah dengan tata lampu mewah. Cukup dengan gitar akustik, pengeras suara yang pas, dan karakter vokal yang jujur, Simpang Lima pun terasa menjadi milik bersama dalam semangat solidaritas.
Artikel terkait :
- 🚲 CFD Simpang Lima Semarang: Awal Tahun 2026 yang Adem dan Penuh Empati
- ♻️🌳 Tukar 15 Botol Plastik Bekas dengan Bibit Pohon di CFD Simpang Lima Semarang: Program Konsisten DLH Sejak 2018!
- 🚗 Government Autoshow 2025 di Car Free Day Semarang: Strategi "Jemput Bola" Dealer di Tengah Kelesuan Pasar
- Panggung CFD Simpang Lima Beda Kali Ini, Ada Apa Sih?
- Lainnya
Komentar
Posting Komentar