🐟 Nasi Pedo: Menikmati Sisi Lain Sego Kucing di Angkringan Semarang

Langkah kami terhenti sejenak di Kucingan Jolotundo malam itu. Rasa lapar yang mendadak menyerang di tengah suasana malam Semarang yang syahdu membuat kami memutuskan untuk merapat. Di antara tumpukan nasi bungkus yang tertata rapi di atas gerobak, mata kami tak sengaja tertuju pada satu label yang tampak mencolok. Biasanya, kami tak terlalu ambil pusing soal pilihan menu, namun kali ini ada rasa penasaran yang muncul saat melihat tulisan di atas kertas cokelat itu: Nasi Pedo.

Bagi yang sering mampir ke kucingan atau angkringan di sudut-sudut Kota Atlas, pemandangan nasi bungkus dengan stempel cap di atasnya tentu sudah menjadi rutinitas visual. Ada cap teri, bandeng, hingga orek tempe yang populer. Namun, Nasi Pedo punya daya tarik tersendiri. Namanya singkat, namun karakternya sangat kuat dan cenderung "berani".

Karakter Ikan Peda yang Ikonik

Bagi sebagian orang, label bertuliskan "PEDO" mungkin terasa asing atau bahkan unik. Namun bagi pelanggan setia kucingan, ini adalah undangan untuk menikmati salah satu menu paling ikonik di jagat kuliner malam Semarang.

Nasi Pedo sejatinya berisi olahan ikan asin peda yang sudah disuwir-suwir. Biasanya, suwiran ikan ini dimasak dengan bumbu pedas, irisan cabai, dan sesekali ditemani sedikit kemangi untuk memberikan keseimbangan rasa. Secara visual, tampilannya sangat jujur—bahkan cenderung minimalis.

Seperti yang terlihat pada gambar, hanya ada segumpal nasi dengan plastik kecil berisi lauk suwiran ikan. Tak ada garnish cantik, apalagi piring porselen. Namun justru di situlah letak keasliannya; Nasi Pedo tidak butuh kemasan mewah untuk membuktikan kualitas rasanya.

Aroma Tajam yang Menggugah Selera

Mari bicara jujur: Nasi Pedo memiliki aroma yang sangat tajam. Karakteristik bau ikan peda memang dikenal menyengat dan seringkali membelah opini. Namun di tangan penjual kucingan Semarang, aroma ini bertransformasi menjadi sinyal bahwa "makan malam sesungguhnya telah dimulai".

Saat bungkusnya dibuka, uap nasi hangat yang bercampur dengan gurihnya ikan peda langsung menyerbu indra penciuman. Rasanya merupakan perpaduan asin, gurih, dan pedas yang menyatu sempurna—kombinasi yang sangat pas untuk lidah orang Semarang yang menyukai rasa mantap dan berani.

Ritual "Dibakar" untuk Rasa Maksimal

Jika ingin merasakan sensasi di level yang lebih tinggi, kami menyarankan untuk meminta penjual kucingan menaruh Nasi Pedo ini di atas bakaran. Biarkan ia bersanding sejenak dengan aneka sate-satean. Aroma kertas yang sedikit hangus akan meresap ke dalam nasi, membuat bumbu pedonya semakin "keluar" dan meresap.

Nasi Pedo adalah bukti nyata bahwa kebahagiaan di Semarang itu sederhana. Tak perlu merogoh kocek dalam, cukup dengan nasi bungkus kecil, aroma yang "nendang", dan suasana hangat di pinggir jalan Jolotundo, perut dan hati sudah bisa merasa penuh.

Pernah mencoba menu yang satu ini saat nongkrong di kucingan?

Artikel terkait :

Komentar